Sabtu, 12 November 2016

5 Akun Instagram Unik yang Diikuti Selebgram

Pernah enggak sih kepikiran akun instagramnya siapa saja yang diikuti oleh selebgram yang punya ribuan bahkan jutaan followers? Apakah hanya sesama teman selebgramnya atau kerabatnya saja? Penasaran gak? Ya udah sih kalau enggak penasaran, jangan dilanjutin baca. Tapi yakin nih gak mau tahu 5 akun instagram unik yang diikuti selebgram?

Emang siapa sih selebgramnya, Des? Selebgram kan banyak.

Berhubung saya pernah posting tentang Aulion, kali ini selebgramnya adalah Aulion. Yap, si stop-motioner dan juga youtuber itu, tuh. Yuk, ah, langsung lanjut ke 5 akun instagram unik yang diikuti Aulion. Cusss!

bakedideas
Yaelah, orang jawa kayak saya ini bacanya gimana, nih. Ba-ke-di-da-es atau bek-dai-dis atau bek-di-des? Ah, bodo, whatever lah, pokoknya itu.

You Can't Judge a Cookie by Its Cutter

Astaga, sebelum baca tulisan tersebut di bionya, saya enggak bakalan menyangka kalau semua foto-foto karakter di akun tersebut adalah kue. Iya, K-U-E berkarakter yang kukira adalah plastisin. Unyu-unyu banget deh semua postingannya.
 
A photo posted by Patti Paige (@bakedideas) on


_mr.boo
Gila nih akun, muslimahnya melebihi wanita muslim. Dia menjulurkan pakainnya bahkan sampai ke alas dasar. Sempurna banget menutup auratnya, tapi kok... hiii takut! 
Btw, dia laki apa wanita, sih?

moography
Pamer gadget mulu nih akun, padahal gadgetnya cuma itu-itu doang. But, it's awesome!

A photo posted by Anshuman Ghosh (@moography) on


dina.a.amin
Punya joy stick rusak? Serahkan sama Dina. Bukan, dia bukan penyedia jasa reparasi, tapi di tangan Dina semua seakan bisa jadi karya.

Btw, itu joy stick-nya rusak apa enggak, sih?

rezachandika
Haha, ternyata ini toh akun instagramnya si Reza yang pertama kali saya tahu dia lewat video featuring sama Aulion beberapa waktu lalu. Dih, bikin ketawa-ketawa-setengah-jijik-gimana-gitu. But, it so gokil!

A video posted by OO MA OO!! (@rezachandika) on

Yak, itulah 5 akun instagram unik yang diikuti selebgram Aulion versi Desywe. Silahkan kepoin saja langsung ke akunnya buat hiburan malam minggu yang katanya sih kelabu :)
Share:

Sabtu, 05 November 2016

Lebih dari Sekedar Tentang Kamu


Saya tak pandai mengulas sebuah buku. Terakhir kali saya ingat, sewaktu SMP diberi tugas sama guru Bahasa Indonesia untuk meresensi novel tema bebas. Ya, yang saya lakukan mencari novel setipis mungkin di perpustakaan dan merangkumnya per bab. Eh, itu salah apa benar, sih?


Sudah lama saya tak dapat bacaan baru. Keseringan scroll-scroll timeline, sih. Kalau gak gitu, biasanya saya baca ulang buku lama di bagian-bagian favorit saja. Tentu pada bagian yang buat saya jadi baper level maksimal. Untunglah, November kali membawa hawa bujukan untuk membeli buku baru. Saya putuskan membeli Tentang Kamu karya Tere Liye. Dan anggap saja ini adalah reviewnya. Oh, bukan review, mungkin lebih tepatnya kesan.




Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan. 

Buku yang bercover sepasang sepatu ini akan terasa sakit  jika ditimpukin ke kepala, mengingat halamannya mencapai angka 524. Awalnya sih saya bertanya-tanya, kenapa covernya gambar sepatu? Apakah ini tentang sepatu kesayangan penulis? Hingga semua terjawab rapi dengan kata per kata yang dirangkai Tere Liye. 

Covernya sederhana dan judulnya hanya dua kata. Tapi dalamnya... beuh, parah! Saya selalu salah saat coba menebak-nebak lanjutannya. Dasar, pemikiran saya ini ternyata pasaran. Padahal, sudah lama sekali tak nonton sinetron.

Awal cerita terkesan wah! karena mengenalkan seorang tokoh bernama Zaman Zulkarnaen dengan profesinya sebagai pengacara top dunia (itulah yang sering diucapkan ibunya). Sekali lagi, pengacara top dunia. Yap, walaupun beda usia hampir sepuluh tahun, Zaman Zulkarnaen adalah jodoh saya di cerita selanjutnya. Kemudian saya dan Zaman hidup bahagia di luar negeri. Tamat.

Ngawur!

Di perusahaan tempatnya bekerja, Zaman menjabat sebagai junior associate (you know lah, but I don't know haha). Dan entah angin apa yang berhembus, tiba-tiba penguasa tunggal tempat ia bekerja memberikan sebuah pekerjaan langsung kepadanya (ini pertama kali terjadi) yang harus diselesaikan dalam waktu cepat. Kalau tidak segera, maka... baca saja sendiri bukunya, hehe. Sebagai imbalannya, Zaman akan diangkat menjadi lawyer senior.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Sinopsis di sampul belakang tidak seberapa menyedihkan dibanding cerita di dalam. Saya rasa, itu hanya beberapa quote yang dikutip dalam cerita. Kalau saja saya tak membacanya sambil jaga toko, mungkin pipi ini telah basah berderai air mata. Halah, lebay. Bodo amat, saya ini memang tukang baper.

Kejadian-kejadian tak terduga tertata apik setiap babnya. Kekejaman yang keji, kepedihan yang menyayat, semua runtut. Sesederhana judul dan covernya, cerita ini dimulai dengan amat sederhana. Hal-hal kecil dalam cerita ini amatlah banyak, hingga lambat laun mebuahkan hasil besar. 

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu dipertemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Lebih dari sekedar tentang kamu. Begitulah saya menggambarkan novel ini. Sebenarnya, novel ini bercerita tentang harta warisan. Tapi tak melulu tentang perebutan. Akan banyak sekali kisah hidup yang masih melekat di masyarakat seperti sekarang. Apalagi tentang Sri. Siapa gerangan? Baca saja bukunya :D

Kemudian tentang cinta. Cinta banyak definisinya. Begitulah kisah cinta dalam novel ini. Tak melulu dengan kekasih. Semua kisah cinta dalam novel ini benar-benar menunjukkan perjuangan pun pengorbanan. Itulah kenapa saya tahan-tahanin buat gak menangis. Haha.

Pengenalan, klimaks dan anti klimaks dalam novel ini saya rasa cukup  membuat pembaca penasaran. Bagaimana habis ini? Bagaimana habis itu? Loh ini kenapa, kok? Wah ternyata! Ya, walaupun ada beberapa klimaks yang kurang hih. Tapi itu hanya sedikit sekali, tentu menurut saya (Ya Allah, ini komen apaan sih? Mana karyamu berani-beraninya mengkritik karya orang terkenal). 

Selebihnya, saya jatuh cinta dengan novel ini. Tak banyak diksi asing yang digunakan Tere Liye, tapi alur ceritanya begitu mengalir saat dibaca. Ah, jujur saja, saya memang baru pertama kali membaca karyanya.


Btw, saya bacanya pakai perasaan banget. Ada beberapa bab yang saya tidak bisa lagi menahan tangis. Hehe, cemen sekali. Kalian sudah baca?
Share:

Selasa, 01 November 2016

Kenalan dengan Orang Norway




Saya yakin, ini judul tidak menarik orang untuk bilang atau sekedar membatin, “wah, judulnya bikin penasaran” atau “apa ya isinya?”. Whatever. Kali ini saya mau menggunakan sedikit bahasa baku. Kenapa? Karena saya mau bercerita tentang perkenalan atau lebih tepatnya percakapan saya dengan orang Norway. Ya, siapa tahu she akan membaca postingan ini dan diterjemahkan (ngarep! Haha. Semoga tulisan ini tidak membosankan).


Berawal dari kesepian iseng, saya ikuti akun @ilsedanielle, eh besoknya Ilse mengikuti akun saya. Ya sudah, langsung saja saya mengirimkan pesan. Benar kan, saya cuma say hallo dan Ilse pun membalasnya. Tenang, saya masih normal. Masih suka dengan laki-laki dan bukan penyuka sesama jenis. Haha. Ini sebatas tambah teman.
Share:

Jumat, 14 Oktober 2016

Media Digital yang Kejam Atau Kita yang Seenak Jidat




2016 adalah tahun di mana hampir semua serba digital. Mulai dari tatap muka dengan mudah hanya lewat video call, belanja sekali klik lewat toko online, baca berita cukup dari HP, bahkan ojek pun sudah ikutan online. Warbiyazah, bukan?
Pengguna media digital pun juga tak mengenal usia. Lihat saja, dulu jaman aku masih SD, mainan yang sering dibawa ke sekolah kalau enggak bola bekel ya gelang karet yang direntengin buat main lompat tali. Tapi sekarang, rata-rata anak SD sudah bawa gadget ke sekolah. Kemudian, para orang tua yang dulu setiap pagi menikmati kopi sambil membaca koran, sekarang menikmati kopi sambil menimang-nimang gadget.
Memang tak semuanya. Tapi, mungkin saja kalian juga merasakan pesatnya perubahan ini, bukan? Ya jelas, kan waktu terus berputar. Sayang, pesatnya perkembangan jaman seperti sekarang tak disertai pula filter yang kuat di beberapa lapisan masyarakat.
Share:

Minggu, 25 September 2016

Kinetic Typography Ecek



Itu ceritanya lagi coba-coba bikin apaaa gitu dari software yang nganggur di laptop. Iya, nama software-nya Adobe After Effect. Pas bikin, berkali-kali bilang, "kok jadi gini sih?"; "kok ga sama sih sama tutorial?"; "loh, kok...", halah, mumet. Hahaha.
Ada niatan juga mau nyemplung ke dunia vlog, sebenarnya. Makanya belajar editing video. Pertama sih mau bikin intro video gitu, eh, kok jadi tertarik sama tutorial bikin Kinetic Typography. Ya udah, bikin ini dulu aja. Lagian, nge-blog aja aku jarang, kok udah manyak-manyak ke vlog. Nanti aja deh vlog-nya.
Fyi, itu video Kinetic Typography pas di-review di laptop suaranya pecah, loh. Padahal audio laptopku baik-baik aja. Pffft, diutak-atik tetep sama hasilnya. Yaudah, pasrah. Sebab itu, sebelumnya, video dan postingan ini kukasih judul Kinetic Typography Ecek bin Gagal. Tapi, setelah kuunggah dan kulihat hasilnya di Youtube, suaranya enggak pecah. Yeay!
Durasinya enggak lama kok. Soalnya emang bagiku masih ribet aja bikin yang panjang-panjang. Maklum, newbie. Btw, masih ada yang kurang pas sama gerak liriknya. Ah, namanya juga Kinetic Typography Ecek. Masih anak bawang.
Share:

Kamis, 08 September 2016

Brosur Gagal Move On



Setiap luka file lama, menyimpan sebuah cerita.

“Heh, udah jadi belum tugasmu? Liat dong!”, tanya Dian sembari menggeser kursinya ke arahku.
“Udah, noh liat!”, jawabku sambil memajukan dagu ke layar monitor tepat di depanku. Kemudian kira-kira yang dilihat Dian kayak gini:

“Waw, emejing!”, balas Dian disambut tatapan stress-nih-bocah, kemudian menggeser kursinya kembali ke meja kerjanya.
Percakapan itu terjadi kira-kira dua tahun lalu, ketika masih dalam masa prakerin. Aku dan tiga teman dipilihkan tempat prakerin oleh wali kelas di sebuah
Share:

Minggu, 04 September 2016

Pindahan



Kemarin aku udah menuliskan betapa senangnya bisa upgrade Wordpress Self Hosting. Itu adalah hal baru untukku. Dan setelah kupikir, aku butuh tempat baru. Ya… aku putuskan untuk pindahan. Sedih sih, tapi mungkin ini yang terbaik L
Halah, mulai deh lebaynya. Enggak, jadi gini, kemarin emang aku udah upgrade, kan. Terus kayaknya aku salah pilih paket. Kupilih pilih hosting yang disk space-nya 100 Mb. Haha, apaan ya Cuma segitu. Habisnya, pas aku searching, disk segitu udah cukup untuk blog personal. Eh, pas udah
Share:

Rabu, 24 Agustus 2016

Buku Fisik atau Buku Digital

Beruntunglah saya yang telah menuliskan nama saya untuk batch berbagi dan berkomentar selanjutnya di Grup Pojok WB. Karena dari situlah ada dorongan untuk ngeblog lagi setelah sebulan enggak ada update-an. Dasar, blogger labil!

Pojok WB, pojok bisa berarti sudut, entah itu sudut lancip, sudut tumpul atau sudut siku-siku. Sedangkan WB adalah singkatan dari
Share:

Minggu, 24 Juli 2016

Ghostbusters di Malam Minggu

Malam minggu kemarin saya pergi ke Cinemaxx bareng temen-temen SD (lagi). Kita nonton Ghostbusters, berenam. Tiga cewek, tiga cowok. Oke sih kalau gandengan, tapi sudah ada yang punya pacar terus sisanya juga punya gebetan. Jadi, kita tetep temenan kok. Halah, ngomong apa sih.
Share:

Rabu, 20 Juli 2016

Reuni

​Malam ini aku menemukan kembali pandangan tidak biasa, terpancar dari kedua matanya yang meneduhkan hati. Jauh sebelumnya, aku merasakan hal sama. Tapi bukan dengan dia.

Beberapa kali pandangan kami bertemu. Mungkin itu sebatas perasaanku. Dan sungguh, dia begitu tenang dengan kemeja birunya. Pun dengan pandangan yang meyakinkan.

_________________________

Ah, puitis yang terpaksa. Entahlah, semalam saya habis reuni sama teman-teman sekolah dasar. Semua tampak berbeda. Tambah cantik, ganteng, tinggi, kurus dan gemuk. Oke, saya bagian yang terakhirnya.
Reuni pada dasarnya beda tipis dengan bongkar aib. Bukan aib sih, tapi masa lalu. Iya, seperti semalam. Ada seorang teman ngajakin main werewolf-werewolf gitu lah pokoknya. Yang menang ngacangin yang kalah. Eh bukan, maksudnya yang kalah harus nurutin yang menang. Sama aja kali.
Babak pertama saya jadi werewolfnya. Menang! Hore! Angelnya mati semua soalnya. Di babak pertama yang menang ngasih pertanyaan dan yang kalah harus jawab jujur. Ya, akhirnya ruang nostalgia berputar. Pertanyaan mainstream pun keluar, "Kamu dulu waktu SD suka sama siapa?"
Untungnya, di babak ini saya aman. Babak kedua, saya jadi angel dan kalah. Disuruh nurutin maunya yang menang, berdiri di kursi tempat nongkrong dan dilihat banyak orang. Kemudian diabadikan. Whatever.
Tapi kalau boleh diulang, saya pengin dikasih pertanyaan mainstream itu. Terus jujur tentang apa yang terjadi semalam, bukan tentang apa di masa lalu.
Mungkin saya hanya terpesona dan kagum saja.
Share:

Rabu, 29 Juni 2016

Kamis, 19 Mei 2016

Kala Tanggal Tua Semakin Menua


Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.


mataharimall-kompetisi







Tanggal tua itu…


.
.
.


“Wuaduh, rek!”, celetuk Shita seketika setelah merebahkan diri di kasur. Sepertinya ada sesuatu.

Share:

Sabtu, 07 Mei 2016

Wong Jawa Nanging Ora Jawani

Nggak nyangka, Desywe udah umur setahun aja. Kemarin tanggal 1 Mei 2016, Si WP ngajak gue buat merayakan setahun gue bersamanya. Eh gue malah cuek-cuek aja.
Gue rasa, setahun ini apapun yang gue tulis masih random banget. Lah, emang ini blog kan yang punya orangnya random juga. Iya sih, tapi gue pengin banget ada sesuatu yang bisa bikin blog ini punya ciri khas.
Terinspirasi dari followers di blog gue yang keren-keren plus keceh badai, gue jadi terdorong buat bikin perubahan. Eeeyak, perubahan apaan tuh? Gue juga belum tau. Yang jelas, bukan perubahan dari manusia ke power rangers.

Share:

Kamis, 05 Mei 2016

Tong Curhat

"Aku udah lelah sama dia"

Pernah nggak sih dicurhatin kayak gitu? Pernah dong, ya. Nggak masalah sebenernya. Cuma...

"Dia kemarin minta maaf ke aku, pake nangis-nangis. Jadinya nggak tega"
Share:

Sabtu, 30 April 2016

Putus Aja Gimana?

ggggggg.jpg
“Boleh minjem tangan nggak?”, tanya Narto ke gue.
“Buat apaan?” gue bingung.
Bukannya dijawab, si Narto langsung nyambar tangan gue. Sumpah, rasanya nge-fly banget. Badan gue mendadak kayak es dan gue cuma bisa diam. Tangan gue digenggam sama dia. Terus kita sama-sama diam. Hening seketika.

Share:

Selasa, 26 April 2016

Baru Nonton Java Heat

Pas lagi pewe-pewenya ngetik gue harus merelakan laptop gue dipinjem buat nonton film sama temen gue. Iya, temen gue yang jadi santri pulang terus main ke rumah gue bawa flashdisk dengan sejuta film koreanya. Gara-gara tuh film, pagi-pagi gue udah dibikin baper. Bukan karena cowok tajir, kaya raya yang jatuh cinta sama cewek lugu, polos nan miskin. Tapi karena ujung-ujungnya pemeran utama mati gegara belain sahabatnya. Dan dengan sukses mata gue merah nahan nangis.

Share:

Sabtu, 23 April 2016

#CatatanBinderDekil: Macam Lensa

Ihui, kayaknya minggu ini gue jadi rajin ngeblog nih gara-gara binder dekil gue. Di hari ketiga #CatatanBinderDekil ini, temanya masih nggak jauh-jauh dari dunia fotografi. Sebenernya gue merasa gimana gitu menuliskan ini semua, soalnya gue bukan photographer. Dan gue sadar, di luar sana buanyak sekali artikel tentang ini, bahkan lebih komplit. Gue mah apa atuh, cuma butiran debu.
Share:

Jumat, 22 April 2016

#CatatanBinderDekil: Macam Kamera

Seperti yang udah gue bilang di postingan sebelumnya, akan ada beberapa postingan dari binder dekil gue. Kali ini kita memasuki sesi kedua dari #CatatanBinderDekil. Untuk sesi kedua ini, gue mau menuliskan tentang macam-macam kamera.
Hadeh, gue bakalan ngiler-ngiler doang nih bahas kamera. Di rumah cuma ada kamera hp sama kamera yang kudu diisi dulu pake roll film biar bisa jeprat-jepret. Kamera jadul itu loh, yang kalau mau lihat hasilnya kudu dicuci dulu kameranya. Nggak ding, roll filmnya yang dicuci cetak maksud gue.
Share:

Kamis, 21 April 2016

#CatatanBinderDekil: Jenis Fotografi

Gue punya binder. Dekil dan tebel. Dibuat nabok pacar yang selingkuh dijamin bikin kliyeng. Nggak percaya? Sini dicoba! Nggak dipungut biaya kok. Tapi gue nggak mau binder gue tambah dekil dengan melakukan hal tersebut.
Biarpun dekil, binder gue punya banyak kenangan. Banyak coretan-coretan nggak jelas di dalamnya. Mulai dari puisi-puisi gue yang sok puitis, lirik-lirik lagu yang bikin nangis,
Share:

Selasa, 19 April 2016

Investasi untuk Masa Depan

Tenang, gue bukan mau bahas bisnis MLM dan kawan-kawannya. Tapi gue mau menuliskan pengalaman yang bikin gue lumayan ngerti kalo nabung itu nggak melulu tentang uang dan disimpen di bank. Terus lagi, moga aja nih tulisan nggak nambah-nambahin draft list gue di lepi, eh sekarang pindah ke binder ding.
Bermula menjelang lebaran, ketika gue sudah kelas XI. 2014 silam. Waktu itu gue diajak
Share:

Jumat, 04 Maret 2016

Yuk, Icip-icip Rudal Ponorogo!

Berhubung postingan kali ini tentang Ponorogo, kota asal dan kota terrrrcintah gue, gue mau pake aku-kamu aja. Bukan, bukan aku-kamu jadi satu. Itu kayaknya mustahil, tapi maksud gue adalah pake bahasa aku-kamu nggak gue-lo. Soalnya, di postingan kemarin ada tuh yang ngomen begini, “Ponorogo tibake enek cah gaul, gue lo” yang artinya “Ponorogo ternyata ada anak gaul, gue lo”. Ya udah... ya udah... iya gue ini, eh aku ini asalnya Ponorogo, lidahnya juga lidah jawa, nggak pantes kok jadi anak kota *hiks*. Lah, bodo amat deh.
Gaes! (iya, aku tau kalau itu penulisannya salah yang bener ‘guys’, udah nggak usah dikomen lagi) kalian tau nggak apa itu R U D A L?

Share:

Rabu, 02 Maret 2016

Bonsay Pembawa Berkah

Masih inget sama Si Bonsay dalam postingan gue yang berjudul Penipuan Berkostum Rejeki? Yap, gue nggak mau bahas lanjutan postingan tersebut karena emang udah nggak ada lanjutannya. Gue juga nggak nyangka kalau postingan tersebut bikin statistik blog gue melejit drastis. Alhamdulillah, rasanya seneng banget. Walaupun gue juga sepenuhnya nggak tau visitornya ngebaca postingan gue apa cuma nyecroll-nyecroll doang. Whatever.

[caption id="attachment_247" align="aligncenter" width="1366"]jadsfh Iya gue tau nggak mudah untuk mempertahankan. Makanya habis naik terus turun.[/caption]

Kali ini ceritanya nggak
Share:

Senin, 29 Februari 2016

Kekinian?

Ciyee yang ke sana - ke mari nentengin DSLR, eh udah nggak jaman ya sekarang kan lagi musim GoPro. Ah, begitulah kekinian yang gue rasa malah cenderung ke ikut-ikutan dan jatuhnya malah ke pasaran. Ya kali kalau ada nilai plus-nya nggak apa-apa, tapi kalau yang didapat cuma min-nya doang buat apa? Hits? Kekinian? Alah, bakalan kemakan waktu deh tuh istilah yang sedarah.

Iya, gue nulis ini emang dalam keadaan belum memiliki
Share:

Minggu, 07 Februari 2016

Penipuan Berkostum Rejeki

Astaga, gue sampe lupa kalo punya blog (alesan!). Nggak tau deh, berapa lama gue nggak ngejamah nih blog.
Oke, jadi begini, sebelumnya gue udah nulis buanyak banget draft buat di posting (halah, dua draft aja dibilang banyak). TAPI, kali ini gue udah bulet banget buat ngepost kejadian beberapa waktu lalu with Bonsay (bukan bunga, tapi julukan sohib gue).
Begini ceritanya:
Pagi tanggal 2 Februari 2016 gue punya janji tuh sama sohib gue. Katanya

Share: