Rabu, 29 Maret 2017

Sabtu, 18 Februari 2017

Cobain Serunya New Langit Musik


- Cobain Serunya New Langit Musik - 
Beberapa hari lalu, saya sengaja mereset HP. Sebelumnya juga enggak back up data. Jadi, ya kayak HP lama rasa baru, gitu. Kudu download aplikasi ini, aplikasi itu lagi. Tentu yang diutamakan adalah aplikasi media sosial dan aplikasi streaming musik.

Ya… walaupun saya tetap suka yang gratisan, tapi sekarang saya berusaha untuk tidak download musik secara illegal. Lagian sekarang sudah dipermudah banget dengan adanya aplikasi streaming musik. Kita tinggal pilih dari sekian banyaknya aplikasi streaming musik tersebut.

Tapi saya malas untuk download lagi aplikasi streaming musik
Share:

Sabtu, 12 November 2016

5 Akun Instagram Unik yang Diikuti Selebgram

Pernah enggak sih kepikiran akun instagramnya siapa saja yang diikuti oleh selebgram yang punya ribuan bahkan jutaan followers? Apakah hanya sesama teman selebgramnya atau kerabatnya saja? Penasaran gak? Ya udah sih kalau enggak penasaran, jangan dilanjutin baca. Tapi yakin nih gak mau tahu 5 akun instagram unik yang diikuti selebgram?

Emang siapa sih selebgramnya, Des? Selebgram kan banyak.

Berhubung saya pernah posting tentang Aulion, kali ini selebgramnya adalah Aulion. Yap, si stop-motioner dan juga youtuber itu, tuh. Yuk, ah, langsung lanjut ke 5 akun instagram unik yang diikuti Aulion. Cusss!

bakedideas
Yaelah, orang jawa kayak saya ini bacanya gimana, nih. Ba-ke-di-da-es atau bek-dai-dis atau bek-di-des? Ah, bodo, whatever lah, pokoknya itu.

You Can't Judge a Cookie by Its Cutter

Astaga, sebelum baca tulisan tersebut di bionya, saya enggak bakalan menyangka kalau semua foto-foto karakter di akun tersebut adalah kue. Iya, K-U-E berkarakter yang kukira adalah plastisin. Unyu-unyu banget deh semua postingannya.
 
A photo posted by Patti Paige (@bakedideas) on


_mr.boo
Gila nih akun, muslimahnya melebihi wanita muslim. Dia menjulurkan pakainnya bahkan sampai ke alas dasar. Sempurna banget menutup auratnya, tapi kok... hiii takut! 
Btw, dia laki apa wanita, sih?

moography
Pamer gadget mulu nih akun, padahal gadgetnya cuma itu-itu doang. But, it's awesome!

A photo posted by Anshuman Ghosh (@moography) on


dina.a.amin
Punya joy stick rusak? Serahkan sama Dina. Bukan, dia bukan penyedia jasa reparasi, tapi di tangan Dina semua seakan bisa jadi karya.

Btw, itu joy stick-nya rusak apa enggak, sih?

rezachandika
Haha, ternyata ini toh akun instagramnya si Reza yang pertama kali saya tahu dia lewat video featuring sama Aulion beberapa waktu lalu. Dih, bikin ketawa-ketawa-setengah-jijik-gimana-gitu. But, it so gokil!

A video posted by OO MA OO!! (@rezachandika) on

Yak, itulah 5 akun instagram unik yang diikuti selebgram Aulion versi Desywe. Silahkan kepoin saja langsung ke akunnya buat hiburan malam minggu yang katanya sih kelabu :)
Share:

Sabtu, 05 November 2016

Lebih dari Sekedar Tentang Kamu


Saya tak pandai mengulas sebuah buku. Terakhir kali saya ingat, sewaktu SMP diberi tugas sama guru Bahasa Indonesia untuk meresensi novel tema bebas. Ya, yang saya lakukan mencari novel setipis mungkin di perpustakaan dan merangkumnya per bab. Eh, itu salah apa benar, sih?


Sudah lama saya tak dapat bacaan baru. Keseringan scroll-scroll timeline, sih. Kalau gak gitu, biasanya saya baca ulang buku lama di bagian-bagian favorit saja. Tentu pada bagian yang buat saya jadi baper level maksimal. Untunglah, November kali membawa hawa bujukan untuk membeli buku baru. Saya putuskan membeli Tentang Kamu karya Tere Liye. Dan anggap saja ini adalah reviewnya. Oh, bukan review, mungkin lebih tepatnya kesan.




Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan. 

Buku yang bercover sepasang sepatu ini akan terasa sakit  jika ditimpukin ke kepala, mengingat halamannya mencapai angka 524. Awalnya sih saya bertanya-tanya, kenapa covernya gambar sepatu? Apakah ini tentang sepatu kesayangan penulis? Hingga semua terjawab rapi dengan kata per kata yang dirangkai Tere Liye. 

Covernya sederhana dan judulnya hanya dua kata. Tapi dalamnya... beuh, parah! Saya selalu salah saat coba menebak-nebak lanjutannya. Dasar, pemikiran saya ini ternyata pasaran. Padahal, sudah lama sekali tak nonton sinetron.

Awal cerita terkesan wah! karena mengenalkan seorang tokoh bernama Zaman Zulkarnaen dengan profesinya sebagai pengacara top dunia (itulah yang sering diucapkan ibunya). Sekali lagi, pengacara top dunia. Yap, walaupun beda usia hampir sepuluh tahun, Zaman Zulkarnaen adalah jodoh saya di cerita selanjutnya. Kemudian saya dan Zaman hidup bahagia di luar negeri. Tamat.

Ngawur!

Di perusahaan tempatnya bekerja, Zaman menjabat sebagai junior associate (you know lah, but I don't know haha). Dan entah angin apa yang berhembus, tiba-tiba penguasa tunggal tempat ia bekerja memberikan sebuah pekerjaan langsung kepadanya (ini pertama kali terjadi) yang harus diselesaikan dalam waktu cepat. Kalau tidak segera, maka... baca saja sendiri bukunya, hehe. Sebagai imbalannya, Zaman akan diangkat menjadi lawyer senior.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Sinopsis di sampul belakang tidak seberapa menyedihkan dibanding cerita di dalam. Saya rasa, itu hanya beberapa quote yang dikutip dalam cerita. Kalau saja saya tak membacanya sambil jaga toko, mungkin pipi ini telah basah berderai air mata. Halah, lebay. Bodo amat, saya ini memang tukang baper.

Kejadian-kejadian tak terduga tertata apik setiap babnya. Kekejaman yang keji, kepedihan yang menyayat, semua runtut. Sesederhana judul dan covernya, cerita ini dimulai dengan amat sederhana. Hal-hal kecil dalam cerita ini amatlah banyak, hingga lambat laun mebuahkan hasil besar. 

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu dipertemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Lebih dari sekedar tentang kamu. Begitulah saya menggambarkan novel ini. Sebenarnya, novel ini bercerita tentang harta warisan. Tapi tak melulu tentang perebutan. Akan banyak sekali kisah hidup yang masih melekat di masyarakat seperti sekarang. Apalagi tentang Sri. Siapa gerangan? Baca saja bukunya :D

Kemudian tentang cinta. Cinta banyak definisinya. Begitulah kisah cinta dalam novel ini. Tak melulu dengan kekasih. Semua kisah cinta dalam novel ini benar-benar menunjukkan perjuangan pun pengorbanan. Itulah kenapa saya tahan-tahanin buat gak menangis. Haha.

Pengenalan, klimaks dan anti klimaks dalam novel ini saya rasa cukup  membuat pembaca penasaran. Bagaimana habis ini? Bagaimana habis itu? Loh ini kenapa, kok? Wah ternyata! Ya, walaupun ada beberapa klimaks yang kurang hih. Tapi itu hanya sedikit sekali, tentu menurut saya (Ya Allah, ini komen apaan sih? Mana karyamu berani-beraninya mengkritik karya orang terkenal). 

Selebihnya, saya jatuh cinta dengan novel ini. Tak banyak diksi asing yang digunakan Tere Liye, tapi alur ceritanya begitu mengalir saat dibaca. Ah, jujur saja, saya memang baru pertama kali membaca karyanya.


Btw, saya bacanya pakai perasaan banget. Ada beberapa bab yang saya tidak bisa lagi menahan tangis. Hehe, cemen sekali. Kalian sudah baca?
Share:

Selasa, 01 November 2016

Kenalan dengan Orang Norway




Saya yakin, ini judul tidak menarik orang untuk bilang atau sekedar membatin, “wah, judulnya bikin penasaran” atau “apa ya isinya?”. Whatever. Kali ini saya mau menggunakan sedikit bahasa baku. Kenapa? Karena saya mau bercerita tentang perkenalan atau lebih tepatnya percakapan saya dengan orang Norway. Ya, siapa tahu she akan membaca postingan ini dan diterjemahkan (ngarep! Haha. Semoga tulisan ini tidak membosankan).


Berawal dari kesepian iseng, saya ikuti akun @ilsedanielle, eh besoknya Ilse mengikuti akun saya. Ya sudah, langsung saja saya mengirimkan pesan. Benar kan, saya cuma say hallo dan Ilse pun membalasnya. Tenang, saya masih normal. Masih suka dengan laki-laki dan bukan penyuka sesama jenis. Haha. Ini sebatas tambah teman.
Share:

Jumat, 14 Oktober 2016

Media Digital yang Kejam Atau Kita yang Seenak Jidat




2016 adalah tahun di mana hampir semua serba digital. Mulai dari tatap muka dengan mudah hanya lewat video call, belanja sekali klik lewat toko online, baca berita cukup dari HP, bahkan ojek pun sudah ikutan online. Warbiyazah, bukan?
Pengguna media digital pun juga tak mengenal usia. Lihat saja, dulu jaman aku masih SD, mainan yang sering dibawa ke sekolah kalau enggak bola bekel ya gelang karet yang direntengin buat main lompat tali. Tapi sekarang, rata-rata anak SD sudah bawa gadget ke sekolah. Kemudian, para orang tua yang dulu setiap pagi menikmati kopi sambil membaca koran, sekarang menikmati kopi sambil menimang-nimang gadget.
Memang tak semuanya. Tapi, mungkin saja kalian juga merasakan pesatnya perubahan ini, bukan? Ya jelas, kan waktu terus berputar. Sayang, pesatnya perkembangan jaman seperti sekarang tak disertai pula filter yang kuat di beberapa lapisan masyarakat.
Share:

Minggu, 25 September 2016

Kinetic Typography Ecek



Itu ceritanya lagi coba-coba bikin apaaa gitu dari software yang nganggur di laptop. Iya, nama software-nya Adobe After Effect. Pas bikin, berkali-kali bilang, "kok jadi gini sih?"; "kok ga sama sih sama tutorial?"; "loh, kok...", halah, mumet. Hahaha.
Ada niatan juga mau nyemplung ke dunia vlog, sebenarnya. Makanya belajar editing video. Pertama sih mau bikin intro video gitu, eh, kok jadi tertarik sama tutorial bikin Kinetic Typography. Ya udah, bikin ini dulu aja. Lagian, nge-blog aja aku jarang, kok udah manyak-manyak ke vlog. Nanti aja deh vlog-nya.
Fyi, itu video Kinetic Typography pas di-review di laptop suaranya pecah, loh. Padahal audio laptopku baik-baik aja. Pffft, diutak-atik tetep sama hasilnya. Yaudah, pasrah. Sebab itu, sebelumnya, video dan postingan ini kukasih judul Kinetic Typography Ecek bin Gagal. Tapi, setelah kuunggah dan kulihat hasilnya di Youtube, suaranya enggak pecah. Yeay!
Durasinya enggak lama kok. Soalnya emang bagiku masih ribet aja bikin yang panjang-panjang. Maklum, newbie. Btw, masih ada yang kurang pas sama gerak liriknya. Ah, namanya juga Kinetic Typography Ecek. Masih anak bawang.
Share:

Kamis, 08 September 2016

Brosur Gagal Move On



Setiap luka file lama, menyimpan sebuah cerita.

“Heh, udah jadi belum tugasmu? Liat dong!”, tanya Dian sembari menggeser kursinya ke arahku.
“Udah, noh liat!”, jawabku sambil memajukan dagu ke layar monitor tepat di depanku. Kemudian kira-kira yang dilihat Dian kayak gini:

“Waw, emejing!”, balas Dian disambut tatapan stress-nih-bocah, kemudian menggeser kursinya kembali ke meja kerjanya.
Percakapan itu terjadi kira-kira dua tahun lalu, ketika masih dalam masa prakerin. Aku dan tiga teman dipilihkan tempat prakerin oleh wali kelas di sebuah
Share: